Tradisi Aneh! Dua Turis Asing yang Kedapatan Mencuri Harus Diarak Keliling Pulau Nusa Tenggara Barat

Peristiwa ini terjadi pada beberapa hari yang lalu. Dengan jelas foto dua orang wisatawan Barat yang identitasnya tidak ditemukan terlihat sedang diarak bekeliling pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia atas tuduhan pencurian.

Gambar-gambar tersebut dengan jelas menunjukkan seorang wanita dan pria WNA yang berjalan kaki bersama para petugas berseragam di pulau Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat.

Kedua WNA tersebut mengenakan papan yang dilapisi kardus berisi tulisan I am Thieve Dont do What I Did…!! “ Saya mencuri, jangan lakukan apa yang saya lakukan…!’

Baca : Keistimewaan Tempat Wisata Danau Toba Sumatra Utara

dua wisatawan asing tertangkap mencuri

bbci.co.uk

Hukuman mengarak orang karena telah melakukan kejahatan di Kepulauan Gili telah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu dengan unsur yang tidak jelas.

Artikel Terkait : Tragis! Detik-detik Penembakan Duta Besar Rusia

Tersebarnya foto-foto tersebut menarik perhatian publik. Foto tersebut beredar di salah satu berada facebook milik XXX.

Banyak yang bertanya tentang aksi ritual yang dilakukan masyarakat Nusa Tenggara Barat tersebut.

Mengapa Mengarak Kenapa Bukan Hukum Negara?

Salah seorang yang menjabat sebagai kepala kantor pariwisata provinsi Nusa Tenggara Barat “Muhammad Fauzal” menjelaskan bahwa tradisi mengarak orang yang terbukti salah melakukan kejahatan di pulau tersebut telah lama disepakati oleh beberapa pihak diantaranya aparat kepolisian dan masyarakat setempat.

Tradisi ini hanya dilakukan di pulau-pulau kecil Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air yang bersifat sementara dengan tujuan untuk pengamanan.

Biasanya setiap petugas berwenang menjaga pulau kecil tersebut dengan dukungan dari otoritas kepulauan jika dibutuhkan.

Sebagian besar pria yang mengenakan seragam di dalam gambar terlihat seperti adanya sebua pengawalan yang super ketat.

Kepala kantor pariwisata “ Muhammad Fausal” menjelaskan tegas bahwa tradisi mengarak dianggap efektif sehingga bisa mengurangi jumlah kejahatan di sekitar pulau.

Fausal juga menambahkan “sebagian besar dari mereka yang diarak adalah masyarakat setempat, sedikit banyaknya wisatawan asing karena terbukti mabuk lalu melakukan pencurian dengan dalih kehabisan uang.

Tradisi Seperti itu Apakah Sah di Mata Hukum

Pertanyaan ini juga muncul dari salah seorang yang melihat peristiwa ini. Tidak ada unsur jelas apakah ada dasar hukum resmi, namun sebagai terdakwa umumnya agar terhindar dari hukum yang lebih serius.

Sebagian besar pengamat juga ikut menyebutkan bahwa mereka lebih memilih malu diarak daripada harus berdiri menghadap kuasa hukum atau menanggung semua denda yang telah ditetapkan negara.

One Response

  1. Ahmad February 23, 2017

Leave a Reply