INDEF Menyentil, Impor Bahan Baku dan Bahan Modal Jangan Ikut-ikutan Dibenci

Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menegaskan impor bahan baku dan bahan modal perlu ditingkatkan. Dia menjelaskan pengurangan impor bahan baku dan bahan modal bisa berbahaya bagi produksi industri dalam negeri. "Impor bahan baku bahan modal itu jangan dibenci, kalau disetop, dibatasi, dan diperlambat malah produksi industri dalam negeri yang akan terganggu," ucap Berly dalam konferensi pers daring, Senin (8/3/2021).

Menurutnya, langkah ke depan yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengurangi impor konsumtif. Ekonom dari Universitas Indonesia itu menjabarkandata impor tahun 2020 terbanyak bahan baku/penolong 70 persen, barang konsumtif tas tas mahal, mobil, sepatu sebesar 10 persen. "Jadi nggak terlalu banyak. Kalau bisa dikurangi ya bagus. Kalau bahan baku/ penolong dikurangi ini produksi dalam negeri yang terganggu berarti kan?" tuturnya.

"Jadi harus akurat kalau mau benci impor, gtu kan, impor yang mana dibenci?" tambah dia. Berly menambahkan sudah seharusnya strategi import substitution industry diganti menjadi impor yang diproses di dalam negeri. Harapannya, semakin kuat rantai produksi manufaktur dan jasanya maka makin kuat nilai produk yang bisa diekspor.

"Impor konsumtif yang dibenci tadi jam sepatu tas, elektronik karena bisa upscale," tukasnya. Dia mengatakan dibanding impor Malaysia didominasi mesin, elektronik, vehicle 20 persen. Namun begitu, jumlah ekspor mereka lebih banyak lagi. "Gimana nih kok mereka bisa melakukan ini dari segi nilai dan komposisi. Itu karena Malaysia sudah menjadi titik global supply chain Toyota. Jadi ada di Malaysia, India, Thailand, dan Jepang. Di Malaysia produksinya satu bagian," kata Berly.

Ekonomi Indonesia relatif tertutup dan kecil sekali rasio perdagangan terhadap GDP masih kalah dibandingkan Thailand, Malaysia, dan juga Vietnam yang sedang naik daun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.